Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Teknobis

Good Day Homestay Legian Resmi Beroperasi, Optimistis Tangkap Peluang Wisatawan Asing Saat Rupiah Melemah

×

Good Day Homestay Legian Resmi Beroperasi, Optimistis Tangkap Peluang Wisatawan Asing Saat Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

BADUNG, BALI, Bacawarta.id,– Di tengah dinamika ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, sektor pariwisata Bali justru dinilai masih menyimpan peluang besar. Optimisme tersebut menjadi landasan dibukanya Good Day Homestay Legian, sebuah akomodasi berkonsep long stay yang resmi melakukan grand opening di Jalan Padma Utara Gang Abdi Nomor 4, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (6/6/2026).

Berbeda dengan sebagian besar penginapan di kawasan wisata Legian yang menyasar wisatawan jangka pendek, Good Day Homestay hadir dengan konsep hunian mingguan, bulanan hingga tahunan. Konsep tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan mancanegara, ekspatriat, pekerja jarak jauh (digital nomad), hingga keluarga yang ingin menikmati Bali dalam waktu lebih lama dengan biaya yang lebih terjangkau.

Langkah ekspansi bisnis ini dilakukan saat industri pariwisata global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang. Namun, manajemen Good Day Homestay justru melihat kondisi tersebut sebagai momentum untuk menarik lebih banyak wisatawan asing ke Pulau Dewata.

Owner Good Day Homestay, Frangky Tanimena, mengatakan pembukaan akomodasi ini bukan sekadar investasi bisnis, tetapi juga bentuk kontribusi untuk mendukung kebangkitan sektor pariwisata Bali yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat.

Menurut Frangky, kawasan Legian hingga kini masih menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan internasional, khususnya turis asal Australia yang selama puluhan tahun menjadi pasar utama pariwisata Bali.

“Kita berharap ke depan wisatawan di Bali bisa hidup kembali. Kami juga berencana mengadakan beberapa event agar wisatawan lokal dan mancanegara bisa berbondong-bondong hadir, karena wilayah Legian ini tetap menjadi magnet utama bagi turis asing,” ujar Frangky.

Ia menilai para pelaku usaha tidak boleh hanya bersikap menunggu perkembangan situasi ekonomi global. Sebaliknya, diperlukan langkah nyata dan inovasi agar sektor pariwisata tetap tumbuh dan mampu menciptakan efek berganda bagi masyarakat sekitar.

Optimistis Meski Ekonomi Global Bergejolak
Meski sejumlah negara tengah menghadapi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian akibat konflik geopolitik, manajemen Good Day Homestay mengaku tetap optimistis terhadap prospek industri pariwisata Indonesia.

Frangky menegaskan pihaknya percaya pemerintah pusat terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan iklim investasi, termasuk bagi sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar negara.

“Kami percaya bahwa pimpinan-pimpinan di kementerian, dewan, maupun Presiden sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk pelaku usaha. Sektor bisnis pariwisata akan selalu menunjang program pemerintah agar Indonesia menjadi lebih baik,” katanya.

Dengan proyeksi tingkat hunian yang terus meningkat seiring pulihnya mobilitas wisatawan internasional, manajemen menargetkan investasi yang ditanamkan pada proyek ini dapat mencapai titik impas atau break even point dalam waktu sekitar tiga tahun.

“Jika semua berjalan lancar dan iklim ekonomi stabil, kami menargetkan dalam waktu tiga tahun investasi bisnis ini sudah kembali normal dan mendatangkan keuntungan yang baik,” tambah Frangky.

Sementara itu, salah satu pengelola sekaligus representatif keluarga pemilik, Baptista Justin Tanimena, mengungkapkan bahwa konsep long stay dipilih setelah melihat perubahan tren perjalanan wisata pascapandemi.

Menurut Justin, semakin banyak wisatawan yang tidak hanya datang untuk berlibur beberapa hari, tetapi memilih tinggal selama beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk bekerja, belajar, atau menikmati gaya hidup di Bali.

“Kami ingin menghadirkan konsep baru untuk membangkitkan suasana Bali lagi, terutama di daerah Legian. Di sini banyak turis asal Australia, dan kami memfasilitasi mereka agar bisa tinggal lebih lama dengan biaya yang jauh lebih murah,” ujarnya.

Justin yang saat ini menempuh pendidikan di Melbourne, Australia, mengaku memahami karakteristik wisatawan Australia yang cenderung mencari akomodasi nyaman dengan harga kompetitif untuk masa tinggal yang lebih panjang.

Karena itu, Good Day Homestay menawarkan tarif mulai dari Rp1,5 juta per minggu, lengkap dengan fasilitas Wi-Fi, kolam renang outdoor, area yang nyaman, serta lokasi strategis yang dekat dengan Pantai Legian, pusat hiburan malam, restoran, dan berbagai fasilitas publik lainnya.

Pelemahan Rupiah Jadi Peluang
Menariknya, manajemen tidak melihat pelemahan rupiah sebagai ancaman bagi bisnis mereka. Sebaliknya, kondisi tersebut dianggap mampu meningkatkan daya tarik Bali di mata wisatawan asing.

Saat nilai tukar dolar Australia maupun dolar Amerika Serikat menguat terhadap rupiah, biaya akomodasi, kuliner, transportasi, hingga hiburan di Bali menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara.

“Kami sangat optimis karena target pasar utamanya adalah warga Australia dan turis asing lainnya. Mengingat nilai kurs AUD dan USD yang sedang tinggi terhadap rupiah, biaya tinggal di sini akan terasa sangat murah bagi mereka. Keuntungan ini pasti akan menarik mereka untuk mengajak keluarga dan kolega datang ke Bali,” jelas Justin.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi keuntungan kompetitif bagi Bali dibandingkan sejumlah destinasi wisata internasional lainnya yang memiliki biaya hidup lebih tinggi.

Sediakan 30 Kamar dan Tiga Vila Eksklusif
Untuk menunjang kebutuhan pasar, Good Day Homestay menyediakan 30 unit kamar yang dibagi ke dalam dua konsep desain interior, yakni tema warna-warni (full color) dan nuansa kayu alami (wooden style).

Sebagai bagian dari promosi tahun pertama operasional, manajemen menawarkan harga khusus untuk penyewaan vila tahunan. Vila satu kamar dipasarkan dengan harga Rp100 juta per tahun, sementara vila dua kamar ditawarkan seharga Rp140 juta per tahun.

Di sisi lain, pengelola operasional Glorian Vanlee menilai kawasan Legian masih memiliki prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Selain berada di jantung destinasi wisata Bali, Legian juga memiliki akses mudah menuju Pantai Kuta, Seminyak, pusat kuliner, hingga berbagai fasilitas hiburan yang menjadi daya tarik wisatawan asing.

Menurutnya, pasar akomodasi jangka panjang di kawasan tersebut masih belum tergarap secara maksimal, sehingga membuka peluang besar bagi pelaku usaha yang mampu menghadirkan konsep berbeda.

“Kami melihat potensi pasar jangka panjang di Legian sangat terbuka lebar. Dengan fasilitas lengkap yang kami miliki, kami sangat percaya diri dan positif mampu menerobos ketatnya persaingan pasar di tengah kondisi ekonomi saat ini,” pungkas Glorian. (bm2)

Example 300250
Example 120x600