pendidikan

Ngaso Ngaji Sore TVMU Jatim 1 Sukseskan Transformasi Dakwah Pendidikan Produktif

×

Ngaso Ngaji Sore TVMU Jatim 1 Sukseskan Transformasi Dakwah Pendidikan Produktif

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, Bacawarta – Studio 2 TVMU Jatim 1 di SMK Muhammadiyah 2 Surabaya kembali menjadi ruang produksi sekaligus ruang pembelajaran dan penyebaran gagasan melalui program Ngaso Ngaji Sore, Sabtu (3/10/2026).

Dalam kegiatan tapping tersebut, dua tema utama diangkat, yakni “Transformasi Amal Usaha Muhammadiyah Menuju World Class Institution” dan “Moderasi Beragama dan Dakwah Pencerahan”.

Kedua tema tersebut membahas bagaimana Muhammadiyah terus menghadirkan perubahan melalui amal usaha, dakwah, pendidikan, dan media yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pada tapping pertama, TVMU menghadirkan Marisa Izzah, M.Pd., Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bangil sekaligus Wakil Ketua Bidang PAUDDASMEN PDA Pasuruan. Dialog dipandu Irwan, M.Pd.I.

Pembahasan menyoroti tantangan amal usaha Muhammadiyah di tengah perubahan teknologi, meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas layanan, perkembangan dunia pendidikan, serta kompetisi antarlembaga yang semakin dinamis.

Tampilan GIF
Animasi GIF

Transformasi dalam konteks tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya mengejar label “kelas dunia”, tetapi juga membangun budaya mutu, meningkatkan profesionalitas, menghadirkan inovasi, serta memastikan setiap amal usaha tetap memiliki ruh pelayanan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Konsep world class institution juga dipandang sebagai sebuah proses panjang. Lembaga yang maju bukan semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga kemampuan melahirkan sumber daya manusia berkualitas, menerapkan tata kelola yang baik, terbuka terhadap perubahan, serta tetap menjaga nilai dan identitas lembaga.

Dalam dialog itu, kehadiran TVMU turut dipandang sebagai ruang strategis untuk memperluas percakapan mengenai pendidikan dan pengembangan amal usaha.

Melalui media, berbagai pengalaman, gagasan, serta praktik baik tidak hanya berhenti di ruang rapat maupun lingkungan internal lembaga, tetapi dapat dibagikan kepada masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu, tapping kedua menghadirkan Ust. Abdul Basith Mualy, M.A. sebagai narasumber dengan tema “Moderasi Beragama dan Dakwah Pencerahan”. Dialog dipandu Marisa Izzah, M.Pd.

Pembahasan berfokus pada wajah dakwah di tengah masyarakat yang semakin beragam dan terkoneksi melalui berbagai platform digital.

Dakwah saat ini tidak lagi hanya berlangsung di masjid, majelis taklim, maupun mimbar keagamaan. Pesan dakwah juga hadir melalui televisi, media sosial, podcast, video pendek, dan berbagai platform digital lainnya.

Karena itu, dakwah dinilai membutuhkan pendekatan yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan realitas kehidupan masyarakat.

Moderasi beragama menjadi salah satu bagian penting dalam menghadirkan dakwah yang menyejukkan, tidak mudah mempertentangkan perbedaan, serta mendorong kesadaran untuk hidup berdampingan di tengah keberagaman.

Dalam pembahasan tersebut, media juga dinilai memiliki tanggung jawab besar. Media dakwah bukan hanya menjadi saluran penyampai pesan, tetapi turut membentuk cara masyarakat memahami suatu persoalan.

TVMU sebagai media Muhammadiyah memiliki posisi strategis untuk menghadirkan konten yang memiliki kedalaman nilai, namun tetap dikemas dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan masyarakat.

Hal tersebut dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi yang datang secara cepat dan bersamaan. Media dakwah tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga mampu menghadirkan informasi yang dapat dipercaya, bernilai, dan memberikan perspektif yang sehat.

Kedua narasumber memberikan respons positif terhadap kehadiran TVMU sebagai ruang dialog dan penyebaran gagasan.

TVMU diharapkan terus berkembang tidak hanya sebagai media yang menyiarkan program, tetapi juga menjadi ekosistem yang mempertemukan gagasan, pendidikan, dakwah, dan realitas kehidupan masyarakat.

Perkembangan teknologi dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi dinilai harus diikuti dengan inovasi dalam format siaran. Meski demikian, substansi dakwah dan nilai pencerahan tetap menjadi fondasi utama.

Semangat tersebut turut terasa di Studio 2 TVMU Jatim 1 yang berada di lingkungan SMK Muhammadiyah 2 Surabaya.

Keberadaan studio tidak hanya mendukung produksi program TVMU, tetapi juga menghadirkan ruang belajar nyata bagi peserta didik.

Melalui kegiatan tapping, siswa dapat melihat secara langsung bagaimana produksi televisi berjalan, mulai dari persiapan, pengaturan kamera, audio, komunikasi antar kru hingga proses produksi siaran.

Pengalaman tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi juga mempertemukan peserta didik dengan praktik nyata dunia industri kreatif.

Inilah semangat sekolah produktif yang terus dibangun SMK Muhammadiyah 2 Surabaya. Produktif tidak hanya dimaknai sebagai menghasilkan karya, tetapi juga membangun budaya mencipta, mencoba, belajar, berkolaborasi, dan memberikan manfaat.

Studio 2 TVMU Jatim 1 menjadi salah satu contoh bagaimana lingkungan sekolah dapat terhubung langsung dengan dunia industri kreatif, kebutuhan dunia kerja, serta perkembangan teknologi.

Semangat itu sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar SMK Muhammadiyah 2 Surabaya dalam menyambut Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2027/2028.

Sekolah membuka ruang bagi generasi muda untuk tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjalani proses menjadi pribadi yang kompeten, kreatif, berkarakter, dan siap berkarya.

Tapping Ngaso Ngaji Sore tersebut pada akhirnya tidak hanya menghasilkan dua program siaran. Di dalamnya terdapat gagasan tentang pentingnya transformasi amal usaha, dakwah yang mencerahkan, media yang terus berkembang, serta pendidikan yang mampu melahirkan karya.

Dari Studio 2 TVMU Jatim 1 di SMK Muhammadiyah 2 Surabaya, proses produksi mungkin berakhir ketika kamera berhenti merekam. Namun, semangat belajar, berdakwah, berinovasi, dan memberi manfaat terus diharapkan tumbuh.

Sebab, media yang baik bukan sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka ruang pemikiran. Sementara sekolah yang hidup bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi tempat lahirnya karya yang memberi arti.