Jombang, Bacawarta.id,- Persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) semakin dinamis. Di tengah berbagai isu yang mengiringi bursa kandidat, nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin muncul sebagai figur yang menawarkan pendekatan berbeda, yakni tenang, mengedepankan ukhuwah, dan berangkat dari tradisi pesantren.
Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur tersebut menjadi salah satu nama yang diperhitungkan menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang pada sabtu (29/8)
Gus Kikin merupakan cicit KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ia mendapat kepercayaan meneruskan kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat. Proses tersebut telah dipersiapkan sejak 2016, ketika Gus Sholah meminta Gus Kikin mematangkan diri untuk meneruskan amanah melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari.
Posisi di Tebuireng membuat Gus Kikin tidak hanya berhadapan dengan tanggung jawab mengelola lembaga pendidikan. Ia juga berada dalam mata rantai penjagaan tradisi dan sanad keilmuan yang diwariskan KH Hasyim Asy’ari, salah satu fondasi penting perjalanan NU sejak awal berdiri.
Pengalaman Gus Kikin kemudian berkembang ke ranah organisasi. Ia pernah dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029. Pengalaman mengelola pesantren, organisasi, dan dunia usaha menjadi modal yang dinilai relevan untuk menghadapi tantangan NU sebagai organisasi keagamaan sekaligus kekuatan sosial dan ekonomi.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menyebut pemimpin NU membutuhkan kemampuan yang tidak hanya bertumpu pada penguasaan ilmu agama.
“Sebagai organisasi besar, Nahdlatul Ulama membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan agama, tetapi juga kemampuan manajerial, jaringan, serta kemampuan membangun kekuatan NU di bidang ekonomi, pendidikan, dan pergerakan.”
Ia menilai Gus Kikin memiliki kombinasi kemampuan tersebut.
“Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, memiliki kekuatan jaringan untuk membangun, dan di bidang media beliau juga pernah memiliki media televisi.”
Dukungan dari struktur NU Jawa Timur turut memperkuat langkah Gus Kikin. Pada Juli 2026, PWNU Jawa Timur bersama seluruh PCNU di Jawa Timur sepakat memberikan mandat kepadanya untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, menegaskan keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan bersama, bukan dorongan pribadi Gus Kikin.
“Ini bukan keinginan pribadi beliau. Kami menanyakan apakah beliau siap atau tidak, dan beliau menyatakan siap. Ini murni pendapat PCNU. Alhamdulillah seluruh PCNU bersama PWNU satu garis mengusung kiai.” Jelas KH Abdul Matin
Menurut KH Matin, Gus Kikin memiliki kombinasi antara garis keturunan pendiri NU, pengalaman organisasi, dan karakter kepemimpinan yang dinilai mampu menjaga suasana tetap kondusif.
“Selain dzurriyah KH M. Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga memiliki pengalaman organisasi yang matang, bahkan sampai di tingkat PBNU. Sosoknya teduh, tidak gaduh, dan lebih mengutamakan ukhuwah.” lanjutnya.
Gus Kikin sendiri memilih tidak menempatkan pencalonan tersebut sebagai ambisi politik pribadi. Ia menyebut mandat yang diterimanya sebagai bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Gus Kikin terus melakukan silaturahmi dengan para kiai dan tokoh NU di berbagai daerah. Langkah itu dilakukan mulai dari pesantren-pesantren di Jawa Timur hingga bertemu sejumlah tokoh dan ulama di Makassar.
Dalam gagasannya, Gus Kikin menekankan pentingnya mengembalikan NU pada fondasi organisasi. Penguatan Qanun Asasi, penjagaan sanad keilmuan, penerapan adab, serta penguatan politik kebangsaan menjadi sejumlah hal yang ia dorong.
Baginya, NU menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Karena itu, persatuan dan ukhuwah harus tetap menjadi kekuatan utama organisasi agar NU mampu memasuki abad kedua tanpa kehilangan akar sejarah dan tradisi keilmuannya.
Di tengah riuhnya kontestasi Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin membawa simbol penting dari Tebuireng: kesinambungan sanad, tradisi pesantren, pengalaman organisasi, dan kepemimpinan yang mengedepankan keteduhan.* (bm)












