HeadlineNasional

Gus Kikin Usung Qanun Asasi dan Ekonomi Warga sebagai Gagasan Besar untuk NU

×

Gus Kikin Usung Qanun Asasi dan Ekonomi Warga sebagai Gagasan Besar untuk NU

Sebarkan artikel ini

JOMBANG, Bacawarta.id,- KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, salah satu kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU, membawa sejumlah gagasan untuk arah organisasi apabila mendapat amanah memimpin NU.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut menempatkan penguatan ekonomi warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) sebagai salah satu agenda yang dinilai penting. Menurutnya, jumlah warga NU yang besar merupakan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan secara terorganisasi.

Gus Kikin menegaskan bahwa dirinya tidak mengajukan diri untuk maju sebagai Ketua Umum PBNU. Ia menyebut pencalonannya merupakan dorongan dari PWNU Jawa Timur.

“Ini memang bukan sesuatu yang saya persiapkan untuk pemilihan seperti ini. Kami sehari-hari menjalankan kegiatan NU sebaik-baiknya, bersilaturahmi dengan banyak pihak dan membangun hubungan dengan semuanya. Ketika saya disebut sebagai calon, sebenarnya saya bukan mencalonkan diri, tetapi dicalonkan oleh PWNU Jawa Timur,” ujar Gus Kikin.

Selain sektor ekonomi, Gus Kikin juga menawarkan penguatan kembali nilai-nilai dasar yang menjadi pijakan NU sejak awal berdiri. Salah satunya melalui pemanfaatan kembali Qanun Asasi NU, dokumen yang disusun KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu landasan awal organisasi.

Tampilan GIF
Animasi GIF

Menurut Gus Kikin, dokumen tersebut sempat tidak lagi digunakan sebagai rujukan setelah NU memasuki arena politik praktis pada 1952. Dokumen Qanun Asasi kemudian ditemukan kembali dan sekitar tiga tahun lalu telah diterbitkan dalam bentuk buku.

“Dulu Qanun Asasi digunakan NU sejak awal kelahirannya. Setelah NU menjadi partai politik pada 1952, rujukan itu kemudian tidak digunakan lagi. Sekitar tiga tahun lalu dokumen tersebut ditemukan kembali dan sekarang sudah dicetak menjadi buku,” jelasnya.

Ia berharap Qanun Asasi dapat kembali dijadikan salah satu pijakan dalam menjalankan berbagai program NU. Menurutnya, penggunaan kembali rujukan yang dibuat para pendiri NU dapat membantu organisasi kembali memahami prinsip-prinsip yang menjadi dasar gerakan sejak awal.

Dalam bidang ekonomi, Gus Kikin melihat besarnya jumlah warga NU sebagai kekuatan yang dapat menciptakan ekosistem pasar tersendiri. Potensi itu, kata dia, akan semakin besar apabila dikelola dan ditata secara terarah.

“Ekonomi itu tidak bisa dipisahkan dari pasar. NU memiliki warga dalam jumlah yang sangat besar. Kalau potensi tersebut ditata dengan baik, sebenarnya bisa menjadi kekuatan pasar ekonomi yang besar,” katanya.

Gus Kikin juga menilai penguatan ekonomi warga NU tidak harus terbatas pada sektor konvensional. Perkembangan teknologi dan ekonomi digital, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk membangun kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

“Ekonomi digital juga bisa ikut dikembangkan. Tinggal bagaimana caranya. Yang jelas, dengan jumlah warga yang besar, kalau ekonominya ditata dengan baik, tentu akan menjadi sesuatu yang menarik,” ungkapnya.

Sementara ketika ditanya mengenai sosok yang dinilai layak menduduki posisi Rais Aam PBNU, Gus Kikin tidak memberikan nama tertentu. Ia justru mengingatkan kembali karakter Rais Aam pada masa-masa awal NU.

Menurutnya, Rais Aam idealnya memiliki kapasitas keilmuan agama yang kuat sekaligus mampu menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau melihat Rais Aam zaman dahulu, dari sisi keilmuan memang sangat mumpuni. Ulama itu menjaga keilmuannya, sehingga amalan dan seluruh kegiatannya harus berbasis pada ilmu yang dimilikinya,” pungkas Gus Kikin.