HeadlineNasional

Muktamar NU Sepakati AHWA, Gus Kikin Disebut Figur Teduh dan Mandiri

×

Muktamar NU Sepakati AHWA, Gus Kikin Disebut Figur Teduh dan Mandiri

Sebarkan artikel ini

JOMBANG, Bacawarta.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Keputusan itu diperoleh setelah 401 muktamirin memilih AHWA, sementara 150 suara menghendaki pemilihan langsung.

Muktamar juga menyepakati aturan iddah politik selama satu tahun bagi calon yang sebelumnya terlibat dalam partai politik. Kebijakan ini dinilai sejalan dengan aspirasi warga NU yang menginginkan organisasi lebih fokus pada urusan umat dan agama.
Di tengah penjaringan calon AHWA yang melibatkan lebih dari 21 nama ulama, bursa Ketua Umum PBNU mengerucut pada sejumlah figur, termasuk Gus Kikin dan Gus Yahya.

Dukungan terhadap Gus Kikin datang dari tuan rumah Muktamar, PCNU Jombang. Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menilai Gus Kikin memiliki pengalaman organisasi, hubungan genealogis dengan pendiri NU, serta kemandirian ekonomi.

“Gus Kikin ini zuriah muassis, cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Darahnya sudah tidak diragukan lagi. Beliau juga pengusaha, sudah mentas dengan dirinya, insyaallah enggak golek urip nang NU, bisa nguripi,” ujar Gus Fahmi.

Ia juga menilai kepemimpinan Gus Kikin selama menjadi Ketua PWNU Jawa Timur berlangsung teduh dan mampu menjaga harmoni organisasi. Dukungan terhadap Gus Kikin disebut telah mendapat amanah dari 45 PCNU se-Jawa Timur.

Tampilan GIF
Animasi GIF

Wakil Rais PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, turut menilai Gus Kikin sebagai sosok yang “teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah.”

Figur pengusaha dalam kepemimpinan NU bukan hal baru. KH Hasan Gipo, saudagar asal Surabaya, tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pertama. Karena itu, munculnya figur berlatar belakang pengusaha dinilai memiliki akar sejarah dalam perjalanan NU.

Gus Kikin juga menawarkan gagasan penguatan ekonomi warga NU melalui konsolidasi pasar nahdliyin, UMKM, ekonomi digital, optimalisasi aset, serta digitalisasi organisasi.

Terkait pencalonannya, Gus Kikin menegaskan bahwa dirinya tidak mengejar jabatan tersebut.

“Ini amanah, bukan niat pribadi. Bila memang ditugaskan, insyaallah saya siap.”
Ia juga mengajak seluruh elemen NU menjaga kerukunan selama proses Muktamar berlangsung.

Pada akhirnya, keputusan kepemimpinan PBNU berada di tangan muktamirin dan ulama AHWA. Pesan Gus Sholah yang kembali diingat Gus Fahmi pun menjadi pengingat agar dinamika Muktamar tidak berubah menjadi konflik.

“Jangan biarkan air mata muassis ini menetes karena ulah kita.”
Wallahu a’lam bish showab.*(Nn)